Web Analytics Made Easy - Statcounter

Kurangi Emisi Karbon, PLN Ubah PLTS Menjadi PLTD Hingga 250MW

Presiden PLN Darmawan Prasodjo mengatakan di tengah kenaikan harga minyak dunia, peralihan energi dari energi berbasis impor ke energi dalam negeri merupakan langkah strategis yang harus segera dilakukan.

Selain mampu menghemat penggunaan BBM, program ini juga dapat menghemat devisa negara. Program pemindahan solar ini juga merupakan langkah awal PLN dalam proses konversi sekitar 5.200 pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang saat ini beroperasi.

“PLN terus berkomitmen untuk melakukan transformasi energi bersih di dalam negeri sebagai upaya untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Selain itu, hal ini juga untuk mendukung komitmen Indonesia sebagai negara tuan rumah KTT G20 untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060,” Darmawan mengatakan dalam sambutannya dengan topik teknologi energi terbarukan sebagai pendorong acara penghapusan solar Di Indonesia, Rabu 23 Maret.

Saat ini PLN membuka lelang untuk mengganti PLTD dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan baterai. PLN akan mengkonversi hingga 250 megawatt (MW) PLTD yang tersebar di sejumlah site di Indonesia.

Nantinya PLTD ini akan diganti dengan PLTS beban dasar yang artinya ada tambahan baterai agar genset bisa berjalan selama 24 jam. PLN mendorong peserta untuk meningkatkan inovasi guna menciptakan baterai yang efisien dengan pengoperasian yang handal.

“Teknologi mana yang paling andal dan efektif itulah yang terbaik,” kata Darmawan. “Jadi ini yang menang. Ini membangun inovasi.”

Dengan konversi ke PLTS dan baterai, kapasitas terpasang di tahap pertama ini bisa sekitar 350 MW. Sehingga bauran energi terbarukan dapat ditingkatkan dan kapasitas terpasang pembangkit nasional meningkat.

Pada tahap kedua, PLN akan mengkonversi sisa PLTD sekitar 338 MW dengan pembangkit EBT lainnya, sesuai dengan sumber daya alam unggulan daerah dan ekonomi terbaik.

Baca Juga  Terus hidup miskin dengan 7 Kebiasaan Finansial ini

Darmawan juga menjelaskan, proyek ini dijadwalkan selesai pada 2026.

“Program diesel removal ini bisa menghemat 67.000 kiloliter BBM. Selain itu, penurunan emisi yang dicapai bisa mencapai 0,3 juta metrik ton karbon dioksida dan peningkatan bauran energi 0,15 persen,” jelasnya.

Selain perkembangan teknologi, Darmawan meyakini biaya produksi pembangkit EBT di Indonesia akan lebih kompetitif dibandingkan pembangkit fosil.

Hal ini terlihat dari harga PLTS dan baterai yang terus turun. Pada 2015, PLTS dihargai 25 sen AS per kilowatt-jam. Namun, saat ini, harga PLTS dapat ditekan menjadi sekitar 5,8 sen AS per kWh, bahkan dengan tren saat ini turun menjadi kurang dari 4 sen AS per kWh.

Sementara itu, baterai saat ini berharga 13 sen per kilowatt-jam, yang sebelumnya 50 sen per kilowatt-jam. Artinya ada pengurangan biaya sekitar 80 persen.

“Perkembangan teknologi dan inovasi mampu menurunkan harga pembangkit EBT. Ini menjawab dilema antara energi bersih tapi mahal atau energi kotor tapi murah. Jawabannya bisa, dalam kurun waktu tertentu bisa tercapai energi bersih dan murah. ,” kata Darmawan.

Tidak hanya PLTD menjadi PLTS dan baterai, PLN juga menggandeng PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk untuk mengkonversi 33 PLTD menjadi sistem berbasis gas, terutama di daerah terpencil.

“Banyak PLTD yang digarap tahun ini bersama PGN, menggantikan PLTD di pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU). Program gasifikasi ini menyasar daerah-daerah terpencil,” kata Darmawan.

Dalam Rencana Bisnis dan Anggaran Perusahaan (RKAP) PLN 2022, bauran energi dari SPBU pada akhir tahun ditetapkan sebesar 18,76 persen dari 18,1 persen pada Februari 2022. Penambahan ini berasal dari Program PLTD Diesel Removal yang saat ini mendominasi wilayah tersebut. Nusa Tenggara dengan 65 persen saham, serta Maluku dan Papua dengan 85,9 persen saham.

Baca Juga  Mengetahui Berbagai Masalah Pokok Ekonomi Modern

Sumber